Thursday, July 9, 2009

Rekomendasi Sewa Mobil

Saya suka orang-orang ini. Mereka bekerja sangat baik di Industri pariwisata. Daftarnya mungkin baru sedikit. Tapi semoga bisa bertambah seiring masukan dari teman-teman yang sudah merasakan servis yang memuaskan dari mereka. Yang terpenting slogannya adalah: "Harga terjangkau, tapi pelayanan memuaskan!"

JAKARTA
Hadi Rent A Car, Tel: 021-91749661, 0817137686

BELITUNG
Pak Ito, Tel: 081929677010

BALI
Wayan, Tel: 081337664214
Ketut, Tel: 081916154854

--
Sent from my mobile device

Tuesday, June 30, 2009

Jangan Ajak Pacarmu!

Pada suatu saat, sekitar 10 jam sebelum sebuah pesawat menuju Bali akan berangkat, saya mendapatkan sebuah pesan singkat di ponsel.

Saya jadi ikut ke Bali! Dokter membolehkan saya untuk jalan-jalan! Cihuyyyy!

Terdiam sejenak, lalu saya membalas:

Kabar bagus! Tetapi saya sudah terlanjur mengajak pacar karena mengira kamu tak ikut. Bolehkah?

Dia membalas:

Tak masalah! Sampai bertemu besok!

Lalu, 'tak masalah' pun mulai bermasalah pada keesokan harinya.

Ketika naik pesawat, kamu akan bingung meladeni siapa terlebih dulu, pacar atau temanmu.
Ketika kamu masih punya tenaga untuk jalan sana sini, kamu harus berbesar hati karena pacar lebih memilih tinggal di kamar hotel.
Ketika kamu dan teman memiliki satu hobi sementara tidak demikian dengan pacar, ada perasaan tak enak jika harus menelantarkan si dia demi kesenanganmu.
Ketika kamu malam pun tiba, kamu tak enak untuk memilih bermalam di ruangan hotel pacarmu atau temanmu!
Ketika kamu ingin menikmati libur mata dengan melihat makhluk-makhluk indah... Kamu tak bisa melakukannya karena si dia tak putus mengawasi gerak-gerikmu. Duh!

Monday, April 20, 2009

Jalan-jalan Murah ke Bintan

Ketika mendapatkan tiket murah Jakarta-Batam PP tahun lalu, saya sudah punya bayangan bahwa saya akan mengambil cuti satu hari di bulan April 2009 dan pergi liburan ke Pulau Bintan yang berada di seberang Pulau Batam. Sebelumnya saya memang pernah ke Bintan ketika salah seorang teman kebetulan bekerja di bawah naungan Bintan Resort. Dan dengan keberuntungan nasib saya yang kala itu bekerja di salah sebuah media cetak di Jakarta, saya pun berkesempatan untuk mengelilingi komplek Bintan Resorts nan megah dan...mahal bagi saya si Gila Jalan dengan dana jalan-jalan terbatas.

Menyeberang ke pulau Bintan paling enak dari pelabuhan Telaga Punggur, sebuah pelabuhan yang jika dari Bandara Hang Nadim dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Dari Telaga Punggur, sila pilih hendak wisata dengan dana terbatas atau ingin bermewah-mewah di Pulau Bintan. Jika dana terbatas, sebaiknya hindari Bintan Resort yang bisa langsung menyebabkan penyakit kanker stadium IV: Kantong Kering dan harus berani malu pinjam sana sini buat ongkos pergi ke kantor hingga gajian bulan depan tiba.

Wisata dengan dana terbatas masih bisa menyenangkan dengan memilih tujuan ke pelabuhan Tanjung Pinang. Tak jauh dari pelabuhan, ada sebuah hotel yang direkomendasikan oleh salah seorang teman saya bernama Hotel Panorama. Jujur saja, saya belum pernah mencoba untuk tinggal di hotel tersebut karena rencana jalan-jalan saya ke Bintan bulan April ini gagal total dan melenceng ke Singapura demi memuaskan nafsu belanja. Tapi jika tertarik ingin tahu informasi tentang hotel, sila berkunjung ke situs http://www.bintanpanorama.com/. Ketika saya mencoba menghubungi Hotel Panorama, harga per kamar yang ditawarkan di bawah Rp.200.000/malam dengan penjemputan gratis dari pelabuhan ke hotel. Cocok dengan anggaran jalan-jalan yang saya miliki. Ingin mencoba hotel yang lain? Tenang... Masih banyak hotel-hotel lainnya yang bertebaran di Tanjung Pinang dengan harga terjangkau jika mau sedikit berpayah-payah mencari setiba di Tanjung Pinang. Biasanya kalau saya yang jalan, maka bertanya kepada tukang ojek, supir taksi atau abang becak adalah pilihan teratas yang akan saya lakukan untuk mencari penginapan murah dan bersih. Lantas, apa saja yang bisa dilakukan di Tanjung Pinang? Catat daftarnya:
  1. Bagi pecinta makanan laut, jangan sampai tidak mencoba Gonggong, sejenis siput laut berkulit tebal. Atau bagi yang suka ikan, cobalah ikan lebam bakar atau kerapu.

  2. Berkunjung ke Pulau Penyengat, pulau yang kaya akan sejarah kerajaan Melayu.

  3. Makan siang dengan menu ikan asam pedas di kedai kopi 'Santai' di Pasar Temiang dengan suasana pecinan yang kental.

  4. Jalan-jalan ke pantai seperti pantai Trikora dan leyeh-leyeh sepanjang hari sambil menikmati pemandangan pantai.

Jangan lupa pilih musim panas jika ingin jalan-jalan ke Bintan. Dan jangan pula pilih musim hari raya besar umat Budha atau Muslim untuk menghindari harga tiket pesawat yang mahal.

Tuesday, February 3, 2009

Demi Sebuah Hobi

Buat yang tidak mengenal saya, mungkin akan menilai bahwa saya memang gila... Gila jalan untungnya. Dan juga gila melakukan cara apapun demi melancarkan hobi saya. Memang, hobi yang satu ini cukup mahal. Saya harus tahu diri dengan gaji pas-pasan yang masuk ke rekening setiap bulan. Tapi apa daya, saya sudah kadung cinta dengan hobi yang satu ini. Saya hobi menyelam atau diving.

Pada suatu hari diketemukanlah kami dengan Pak Musphiyanto, seorang bapak yang ramah hampir seusia dengan bapak saya. Ketika saya dan teman-teman bertemu pertama kali dengan beliau dan mengutarakan niat untuk belajar diving, Pak Mus menyambut dengan penuh antusias. Bukan karena ia akan mendapatkan pemasukan tambahan dari mengajar diving karena menurut saya pekerjaan tetapnya terlihat sudah sangat mencukupi hidupnya, tapi karena saat itu ia sedang bertemu dengan cewek-cewek gila yang bokek tapi nafsu untuk menggapai cita-cita bisa menyelam. Ia melihat kami seperti putri-putrinya yang kebetulan juga seumuran dengan kami. Lalu ketika tiba pada urusan bayar-membayar, dengan malu kami jujur kepada beliau, bahwa kami tidak sanggup bayar penuh. Pak Mus tersenyum, lalu menyengir dengan menampakkan barisan giginya yang rapi dan berkata, "Tidak apa-apa. Jangan dipusingkan, dicicil saja sampai nanti kalian ada uang lagi."

"Alhamdulillah..."

Benar juga kata orang, di mana ada niat, di situ pasti ada jalan. Saya sangat berterima kasih dengan Pak Mus yang kemudian menjadi instruktur kami sehingga kami dapat menikmati keindahan alam bawah laut di Bunaken, Bali, Ambon, Kepulauan Seribu dan daerah cantik lainnya di Indonesia. Mohon maaf karena saya yang paling lama menyicil, baru bisa melunasi setelah 2 tahun menjadi diver dan Pak Mus pun kaget ketika pada suatu hari mendapatkan sebuah pesan singkat dari saya di ponselnya berisikan kalimat: 'Nomor rekening Bapak berapa ya? Saya mau lunasi biaya ambil sertifikat diving 2 tahun yang lalu'. Lalu Pak Mus membalas antara bingung dan senang: 'Saya malah lupa kalau masih ada deposit di kamu. Wah, lumayan nih...buat tambah-tambah ke Raja Ampat'.

Pak Mus, Pak Mus... Masih saja merendah meski posisinya sudah setinggi pohon kelapa. Terima kasih atas bantuannya menjadikan kami para penyelam yang ramah lingkungan. Keep diving!

Thursday, January 29, 2009

Sedikit Cerita Dari Banda Aceh

Ketika memutuskan untuk pergi ke Banda Aceh, saya agak khawatir. Mengapa? Karena saya tidak berhijab sementara Hukum Syariah berlaku di Aceh dengan akibat yang fatal jika kita melanggarnya.

Setibanya di Aceh, kekhawatiran saya sirna. Aceh tidak sekolot itu dan terlihat hampir sama dengan daerah lain di pulau Sumatera. Saya masih melihat beberapa wanita yang tidak memakai hijab. Bisa jadi mereka bukanlah seorang Muslim, pikir saya. Tetapi analisa saya pun lalu terbantah oleh ocehan teman saya yang asli orang Aceh. Namanya Cut. Gadis tomboy berkulit hitam tapi manis ini aslinya berasal dari Sigli, salah satu daerah yang dulu sering diteror oleh GAM. "Sekarang orang Aceh itu bebas berekspresi, Kak," katanya. "Bukan karena apa-apa, tapi beberapa kali Polisi Syariah yang bertugas menjaga ketertiban Aceh sesuai syariat Islam ternyata tidak memberikan contoh yang baik! Mereka memergoki kawan mereka sendiri yang tengah asyik bermesraan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Akhirnya, dinikahkanlah mereka saat itu juga!" Saya tertawa. Betapa lucunya jika saya sendiri yang memergoki pasangan berlainan jenis tersebut tengah bemesraan melepas hasrat. Tapi ironisnya, itulah yang terjadi.

Meski isu Polisi Syariah agak sedikit menakuti para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh, keindahan tanah rencong ini sesungguhnya tak mampu menyurutkan langkah pelancong. Ada pantai Lampu'uk yang sangat terkenal dengan pemandangannya yang indah. Di balik bukit pantai tersebut pun konon ada pantai rahasia yang sering disebut sebagai 'secret beach' oleh turis asing yang juga bertugas di Aceh pasca bencana tsunami. Tak jauh dari Lampu'uk, ada sebuah jalan aspal menuju hutan yang dihuni oleh beragam kupu-kupu indah, tak pernah saya melihat jenis dan jumlah kupu-kupu sebanyak itu. Menurut penduduk setempat, jalan kecil yang membelah hutan tersebut akan berakhir di Desa Lambado, cukup jauh dari Lampu'uk.

Perihal makanan, Aceh justru juga kaya cita rasa. Ada kafe Joel yang sangat terkenal dengan beragam hidangan lautnya di Lampu'uk. Lalu ada Resto Bene atau dikenal dengan Pace Bene dengan makanan Italia. Masakan oriental? Silakan berkunjung ke Imperial Kitchen. Sementara untuk urusan kopi, setiap kedai kopi di Aceh menyuguhkan kopi lokal yang dapat membahagiakan pecinta kopi.

Wednesday, September 10, 2008

Penulis artikel jalan-jalan masuk neraka?

Begitulah saya mencoba untuk menterjemahkannya, sebuah buku karya Thomas Kohnstamm yang judul aslinya 'Do Travel Writers Go To Hell?'.

Ketika jalan-jalan ke Kuala Lumpur minggu lalu, saya mampir sejenak di Suria KLCC, mal yang sangat terkenal bagi penduduk kota Kuala Lumpur, Malaysia. Tadinya sih sekedar mau sarapan pagi di jam 12.30 karena saya sukses ketiduran sampai jam 11.00 dan melewatkan sarapan gratis yang disediakan pihak hotel. Tapi secara saya masih perempuan normal yang matanya berbinar bahagia saat berada di mal, jadilah saya mampir ke toko-toko termasuk toko buku untuk sekedar cuci mata.
Meskipun ini bukan kali pertama saya ke Kuala Lumpur, saya benar-benar tidak tahu mau jalan-jalan kemana di kota itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku travel tentang Malaysia, Berlitz Pocket Guide Malaysia--buku imut yang lebih saya sukai ketimbang harus menenteng Lonely Planet yang setebal ulekan cabe. Nah, ketika saya hendak membayar buku tersebut, mata saya sempet tertuju pada display buku dengan stiker diskon 20%. Jreeeeng...disitulah kelemahan saya. Tidak bisa melewatkan kesempatan diskon begitu saja seperti layaknya kucing yang tidak bisa melewatkan bau ikan Cuek yang sedang digoreng garing.

Tumpukan buku diskon yang saya lihat ternyata adalah buku-buku curhatan para traveller dari seluruh dunia soal pengalaman mereka serta berbagi tips di negara-negara yang pernah mereka kunjungi. Dan setelah baca melihat resensi semua buku, saya justru tertarik dengan satu judul yang agak nyeleneh karangan Thomas Kohnstamm ini.

Menurut biografi singkat yang ada di buku tersebut, Mas Kohnstamm ini ternyata adalah salah satu penulis buku Lonely Planet yang tadi sempat saya cela-cela (maaf ya Mas...). Tak terhitung pengalamannya berjalan-jalan mulai dari jalan kaki sampai naik kapal pesiar, dari yang tinggal di hostel sampai di hotel Jendral (maksudnya bintang tinggi atau lima--red), dari mulai menjelajahi kampung sampai ke kota besar. Dan yang saya suka dengan buku itu adalah gaya tutur bahasanya yang kocak sehingga di halaman pertama pun saya sudah cekikikan membacanya.

Kalau dipikir-pikir, saya agak sedikit tersindir dengan apa yang dia tulis karena saya pun melakukan sedikit kebohongan di sana sini untuk memuaskan napsu jalan-jalan saya, walaupun tidak se-ekstrim Mas Kohnstamm yang sering beradegan ranjang dengan para wanita di setiap perjalanannya. Yang paling sering saya lakukan adalah...berbohong untuk pulang cepat dari kantor dan mengkorupsi waktu kerja jadi setengah hari di hari Jumat. Suatu hari, saya pernah minta izin kepada pimred saya untuk pulang ke Padang karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Padahal...saya pergi ke Padang untuk jalan-jalan dan memuaskan lidah saya dengan masakan Minang dan alamnya yang indah. Lain waktu saya minta izin untuk pulang cepat karena mau ke dokter untuk mengobati biduran saya padahal saya sudah 10 tahun tidak pernah biduran lagi akibat alergi udara dingin dan panas. Kebohongan yang terbaru adalah ketika saya bilang ke Direktur saya bahwa saya ada meeting dengan rekan bisnis padahal saya langsung ngibrit ke airport agar bisa terbang dengan pesawat sore ke Bali.

Atas semua kebohongan yang telah saya lakukan, saya selalu berdoa agar Tuhan mengampuni saya dan berharap hal tersebut tidak terulang lagi. Dan Tuhan mengabulkan doa saya... dengan memberikan saya keahlian dan kreatifitas lebih besar lagi untuk menciptakan alasan berbohong yang lebih masuk akal. Aduh...

Wednesday, July 16, 2008

Gila Jalan Turun Gunung!

Hmm...

Kalau dihitung-hitung, sudah setahun lebih saya tidak nge-blog lagi. Bukan lantaran sudah tidak pernah jalan-jalan lagi. Tetapi justru karena asik jalan-jalan makanya lupa untuk menuliskan pengalaman jalan-jalan yang berharga.

Baiklah.

Mulai hari ini saya mencoba untuk kembali memainkan jari jemari saya di tuts laptop. Berharap apa yang saya pikirkan sesuai dengan ketikan tulisan yang akan kalian baca. Bukan pengalaman yang mewah yang akan saya sampaikan, tetapi boleh dibilang cukup berharga sepanjang pengalaman jalan-jalan saya.

Pernah suatu kali seorang teman bertanya mengapa saya lebih memilih jalan-jalan daripada menabung. Saya hanya tersenyum dan menjawab, "Melakukan perjalan itu memperkaya jiwa. Dan kekayaan macam itulah yang sedang saya cari..." (OM/16 Juli 2008)