Pada suatu hari diketemukanlah kami dengan Pak Musphiyanto, seorang bapak yang ramah hampir seusia dengan bapak saya. Ketika saya dan teman-teman bertemu pertama kali dengan beliau dan mengutarakan niat untuk belajar diving, Pak Mus menyambut dengan penuh antusias. Bukan karena ia akan mendapatkan pemasukan tambahan dari mengajar diving karena menurut saya pekerjaan tetapnya terlihat sudah sangat mencukupi hidupnya, tapi karena saat itu ia sedang bertemu dengan cewek-cewek gila yang bokek tapi nafsu untuk menggapai cita-cita bisa menyelam. Ia melihat kami seperti putri-putrinya yang kebetulan juga seumuran dengan kami. Lalu ketika tiba pada urusan bayar-membayar, dengan malu kami jujur kepada beliau, bahwa kami tidak sanggup bayar penuh. Pak Mus tersenyum, lalu menyengir dengan menampakkan barisan giginya yang rapi dan berkata, "Tidak apa-apa. Jangan dipusingkan, dicicil saja sampai nanti kalian ada uang lagi."
"Alhamdulillah..."
Benar juga kata orang, di mana ada niat, di situ pasti ada jalan. Saya sangat berterima kasih dengan Pak Mus yang kemudian menjadi instruktur kami sehingga kami dapat menikmati keindahan alam bawah laut di Bunaken, Bali, Ambon, Kepulauan Seribu dan daerah cantik lainnya di Indonesia. Mohon maaf karena saya yang paling lama menyicil, baru bisa melunasi setelah 2 tahun menjadi diver dan Pak Mus pun kaget ketika pada suatu hari mendapatkan sebuah pesan singkat dari saya di ponselnya berisikan kalimat: 'Nomor rekening Bapak berapa ya? Saya mau lunasi biaya ambil sertifikat diving 2 tahun yang lalu'. Lalu Pak Mus membalas antara bingung dan senang: 'Saya malah lupa kalau masih ada deposit di kamu. Wah, lumayan nih...buat tambah-tambah ke Raja Ampat'.
Pak Mus, Pak Mus... Masih saja merendah meski posisinya sudah setinggi pohon kelapa. Terima kasih atas bantuannya menjadikan kami para penyelam yang ramah lingkungan. Keep diving!





