Tuesday, February 3, 2009

Demi Sebuah Hobi

Buat yang tidak mengenal saya, mungkin akan menilai bahwa saya memang gila... Gila jalan untungnya. Dan juga gila melakukan cara apapun demi melancarkan hobi saya. Memang, hobi yang satu ini cukup mahal. Saya harus tahu diri dengan gaji pas-pasan yang masuk ke rekening setiap bulan. Tapi apa daya, saya sudah kadung cinta dengan hobi yang satu ini. Saya hobi menyelam atau diving.

Pada suatu hari diketemukanlah kami dengan Pak Musphiyanto, seorang bapak yang ramah hampir seusia dengan bapak saya. Ketika saya dan teman-teman bertemu pertama kali dengan beliau dan mengutarakan niat untuk belajar diving, Pak Mus menyambut dengan penuh antusias. Bukan karena ia akan mendapatkan pemasukan tambahan dari mengajar diving karena menurut saya pekerjaan tetapnya terlihat sudah sangat mencukupi hidupnya, tapi karena saat itu ia sedang bertemu dengan cewek-cewek gila yang bokek tapi nafsu untuk menggapai cita-cita bisa menyelam. Ia melihat kami seperti putri-putrinya yang kebetulan juga seumuran dengan kami. Lalu ketika tiba pada urusan bayar-membayar, dengan malu kami jujur kepada beliau, bahwa kami tidak sanggup bayar penuh. Pak Mus tersenyum, lalu menyengir dengan menampakkan barisan giginya yang rapi dan berkata, "Tidak apa-apa. Jangan dipusingkan, dicicil saja sampai nanti kalian ada uang lagi."

"Alhamdulillah..."

Benar juga kata orang, di mana ada niat, di situ pasti ada jalan. Saya sangat berterima kasih dengan Pak Mus yang kemudian menjadi instruktur kami sehingga kami dapat menikmati keindahan alam bawah laut di Bunaken, Bali, Ambon, Kepulauan Seribu dan daerah cantik lainnya di Indonesia. Mohon maaf karena saya yang paling lama menyicil, baru bisa melunasi setelah 2 tahun menjadi diver dan Pak Mus pun kaget ketika pada suatu hari mendapatkan sebuah pesan singkat dari saya di ponselnya berisikan kalimat: 'Nomor rekening Bapak berapa ya? Saya mau lunasi biaya ambil sertifikat diving 2 tahun yang lalu'. Lalu Pak Mus membalas antara bingung dan senang: 'Saya malah lupa kalau masih ada deposit di kamu. Wah, lumayan nih...buat tambah-tambah ke Raja Ampat'.

Pak Mus, Pak Mus... Masih saja merendah meski posisinya sudah setinggi pohon kelapa. Terima kasih atas bantuannya menjadikan kami para penyelam yang ramah lingkungan. Keep diving!

Thursday, January 29, 2009

Sedikit Cerita Dari Banda Aceh

Ketika memutuskan untuk pergi ke Banda Aceh, saya agak khawatir. Mengapa? Karena saya tidak berhijab sementara Hukum Syariah berlaku di Aceh dengan akibat yang fatal jika kita melanggarnya.

Setibanya di Aceh, kekhawatiran saya sirna. Aceh tidak sekolot itu dan terlihat hampir sama dengan daerah lain di pulau Sumatera. Saya masih melihat beberapa wanita yang tidak memakai hijab. Bisa jadi mereka bukanlah seorang Muslim, pikir saya. Tetapi analisa saya pun lalu terbantah oleh ocehan teman saya yang asli orang Aceh. Namanya Cut. Gadis tomboy berkulit hitam tapi manis ini aslinya berasal dari Sigli, salah satu daerah yang dulu sering diteror oleh GAM. "Sekarang orang Aceh itu bebas berekspresi, Kak," katanya. "Bukan karena apa-apa, tapi beberapa kali Polisi Syariah yang bertugas menjaga ketertiban Aceh sesuai syariat Islam ternyata tidak memberikan contoh yang baik! Mereka memergoki kawan mereka sendiri yang tengah asyik bermesraan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Akhirnya, dinikahkanlah mereka saat itu juga!" Saya tertawa. Betapa lucunya jika saya sendiri yang memergoki pasangan berlainan jenis tersebut tengah bemesraan melepas hasrat. Tapi ironisnya, itulah yang terjadi.

Meski isu Polisi Syariah agak sedikit menakuti para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh, keindahan tanah rencong ini sesungguhnya tak mampu menyurutkan langkah pelancong. Ada pantai Lampu'uk yang sangat terkenal dengan pemandangannya yang indah. Di balik bukit pantai tersebut pun konon ada pantai rahasia yang sering disebut sebagai 'secret beach' oleh turis asing yang juga bertugas di Aceh pasca bencana tsunami. Tak jauh dari Lampu'uk, ada sebuah jalan aspal menuju hutan yang dihuni oleh beragam kupu-kupu indah, tak pernah saya melihat jenis dan jumlah kupu-kupu sebanyak itu. Menurut penduduk setempat, jalan kecil yang membelah hutan tersebut akan berakhir di Desa Lambado, cukup jauh dari Lampu'uk.

Perihal makanan, Aceh justru juga kaya cita rasa. Ada kafe Joel yang sangat terkenal dengan beragam hidangan lautnya di Lampu'uk. Lalu ada Resto Bene atau dikenal dengan Pace Bene dengan makanan Italia. Masakan oriental? Silakan berkunjung ke Imperial Kitchen. Sementara untuk urusan kopi, setiap kedai kopi di Aceh menyuguhkan kopi lokal yang dapat membahagiakan pecinta kopi.

Wednesday, September 10, 2008

Penulis artikel jalan-jalan masuk neraka?

Begitulah saya mencoba untuk menterjemahkannya, sebuah buku karya Thomas Kohnstamm yang judul aslinya 'Do Travel Writers Go To Hell?'.

Ketika jalan-jalan ke Kuala Lumpur minggu lalu, saya mampir sejenak di Suria KLCC, mal yang sangat terkenal bagi penduduk kota Kuala Lumpur, Malaysia. Tadinya sih sekedar mau sarapan pagi di jam 12.30 karena saya sukses ketiduran sampai jam 11.00 dan melewatkan sarapan gratis yang disediakan pihak hotel. Tapi secara saya masih perempuan normal yang matanya berbinar bahagia saat berada di mal, jadilah saya mampir ke toko-toko termasuk toko buku untuk sekedar cuci mata.
Meskipun ini bukan kali pertama saya ke Kuala Lumpur, saya benar-benar tidak tahu mau jalan-jalan kemana di kota itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku travel tentang Malaysia, Berlitz Pocket Guide Malaysia--buku imut yang lebih saya sukai ketimbang harus menenteng Lonely Planet yang setebal ulekan cabe. Nah, ketika saya hendak membayar buku tersebut, mata saya sempet tertuju pada display buku dengan stiker diskon 20%. Jreeeeng...disitulah kelemahan saya. Tidak bisa melewatkan kesempatan diskon begitu saja seperti layaknya kucing yang tidak bisa melewatkan bau ikan Cuek yang sedang digoreng garing.

Tumpukan buku diskon yang saya lihat ternyata adalah buku-buku curhatan para traveller dari seluruh dunia soal pengalaman mereka serta berbagi tips di negara-negara yang pernah mereka kunjungi. Dan setelah baca melihat resensi semua buku, saya justru tertarik dengan satu judul yang agak nyeleneh karangan Thomas Kohnstamm ini.

Menurut biografi singkat yang ada di buku tersebut, Mas Kohnstamm ini ternyata adalah salah satu penulis buku Lonely Planet yang tadi sempat saya cela-cela (maaf ya Mas...). Tak terhitung pengalamannya berjalan-jalan mulai dari jalan kaki sampai naik kapal pesiar, dari yang tinggal di hostel sampai di hotel Jendral (maksudnya bintang tinggi atau lima--red), dari mulai menjelajahi kampung sampai ke kota besar. Dan yang saya suka dengan buku itu adalah gaya tutur bahasanya yang kocak sehingga di halaman pertama pun saya sudah cekikikan membacanya.

Kalau dipikir-pikir, saya agak sedikit tersindir dengan apa yang dia tulis karena saya pun melakukan sedikit kebohongan di sana sini untuk memuaskan napsu jalan-jalan saya, walaupun tidak se-ekstrim Mas Kohnstamm yang sering beradegan ranjang dengan para wanita di setiap perjalanannya. Yang paling sering saya lakukan adalah...berbohong untuk pulang cepat dari kantor dan mengkorupsi waktu kerja jadi setengah hari di hari Jumat. Suatu hari, saya pernah minta izin kepada pimred saya untuk pulang ke Padang karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Padahal...saya pergi ke Padang untuk jalan-jalan dan memuaskan lidah saya dengan masakan Minang dan alamnya yang indah. Lain waktu saya minta izin untuk pulang cepat karena mau ke dokter untuk mengobati biduran saya padahal saya sudah 10 tahun tidak pernah biduran lagi akibat alergi udara dingin dan panas. Kebohongan yang terbaru adalah ketika saya bilang ke Direktur saya bahwa saya ada meeting dengan rekan bisnis padahal saya langsung ngibrit ke airport agar bisa terbang dengan pesawat sore ke Bali.

Atas semua kebohongan yang telah saya lakukan, saya selalu berdoa agar Tuhan mengampuni saya dan berharap hal tersebut tidak terulang lagi. Dan Tuhan mengabulkan doa saya... dengan memberikan saya keahlian dan kreatifitas lebih besar lagi untuk menciptakan alasan berbohong yang lebih masuk akal. Aduh...

Wednesday, July 16, 2008

Gila Jalan Turun Gunung!

Hmm...

Kalau dihitung-hitung, sudah setahun lebih saya tidak nge-blog lagi. Bukan lantaran sudah tidak pernah jalan-jalan lagi. Tetapi justru karena asik jalan-jalan makanya lupa untuk menuliskan pengalaman jalan-jalan yang berharga.

Baiklah.

Mulai hari ini saya mencoba untuk kembali memainkan jari jemari saya di tuts laptop. Berharap apa yang saya pikirkan sesuai dengan ketikan tulisan yang akan kalian baca. Bukan pengalaman yang mewah yang akan saya sampaikan, tetapi boleh dibilang cukup berharga sepanjang pengalaman jalan-jalan saya.

Pernah suatu kali seorang teman bertanya mengapa saya lebih memilih jalan-jalan daripada menabung. Saya hanya tersenyum dan menjawab, "Melakukan perjalan itu memperkaya jiwa. Dan kekayaan macam itulah yang sedang saya cari..." (OM/16 Juli 2008)

Friday, August 17, 2007

Perjalanan pengobat putus cinta

Akhir Desember 2006, saya terhenyak oleh kenyataan bahwa pacar yang saya anggap setia ternyata...selingkuh! Peristiwa itu sungguh mengobrak-abrik stabilitas emosi saya yang selalu stabil mengingat saya adalah seorang Libra sejati yang suka berada dalam situasi 'seimbang'--sesuai dengan lambang 'timbangan' yang menaungi zodiak saya. Walhasil, semua sahabat yang menjadi tempat curhatan saya pun berupaya untuk menghibur saya dengan sepenuh hati dengan mengajak jalan-jalan....ke Bunaken.

Sebenarnya rencana jalan-jalan ke Bunaken sendiri sudah muncul jauh-jauh hari sebelum saya putus cinta. Sebagai diver pemula (meski sudah punya kartu Advance Water Diver), ceritanya kami tertantang dan juga terpanggil untuk melakukan penyelaman di Bunaken. Dan jujur saja, bagi para penyelam, rasanya tidak 'afdol' kalau belum pernah menyelam di salah satu Taman Laut yang terkenal di seantero dunia ini. Akhirnya, jadilah kami memutuskan untuk membeli tiket pesawat PP Jakarta-Manado untuk kemudian menyebrang ke pulau Bunaken yang terletak di sebelah utara propinsi Sulawesi Utara.

Perjalanan dari Jakarta ke Manado dengan pesawat Lion Air memakan waktu lebih dari 4 jam jika harus transit dulu di Makassar. Dan karena kami mengambil penerbangan sore, jadilah kami tiba di Bandar Udara Sam Ratulangi pada mala hari. Kami pun kemudian dibawa ke sebuah penginapan yang tidak jauh dari pelabuhan agar lebih cepat berangkat menuju ke pulau Bunaken keesokan harinya.

Dalam situasi liburan, seharusnya saya bahagia dan tertawa melihat laut yang terbentang luas dan langit biru yang selalu saya idamkan ada di kota Jakarta. Tetapi apa daya, rasa sakit hati masih saja bercokol dan tak sadar saya pun meneteskan air mata dari balik kaca mata hitam yang selalu setia menemani kemanapun saya jalan. Untungnya, sahabat wanita yang saya miliki adalah sahabat terbaik yang saya dapatkan dalam hidup. Begitu mereka menangkap rona aneh wajah saya yang berbalut kaca mata, mereka pun mulai melancarkan aksi bercanda gila dengan cela mencela tanpa sensor!

Ternyata, bukan cuma jalan-jalan bersama sahabat yang membuat saya masih bisa bertahan dan bangkit. Keindahan laut Bunaken memang tidak diragukan. Penyelaman pertama saya bersama tim dari Bastianos Resort di Taman Nasional Laut Bunaken memang sangat menakjubkan. Belum pernah saya melihat taman laut yang indah berdinding terumbu karang berwarna-warni seperti di Bunaken. Sesekali saya bertemu dengan si cantik Lion Fish yang menyembul dari balik karang. Dan pada penyelaman berikutnya, saya pun untuk yang pertama kalinya melihat White Tip Shark atau hiu yang ujung siripnya berwarna putih! Beruntunglah kita yang hidup di Indonesia karena tidak ada jenis hiu yang berbahaya di perairan Indonesia. Sungguh luar biasa... Seandainya saya menyelam sendirian tanpa para sahabat, mungkin saya akan menyanyikan lagu dangdut "bunuhlah aku..." di depan hiu tersebut! Hhhhh...

Walau luka hati saya belum kering meski sudah 2 hari di Bunaken, saya jadi lebih belajar bagaimana agar selalu tegar menghadapi apapun. Ocha, sang penyelam pendamping saya pun bertutur soal pengalaman hidupnya yang keras kepada kami. Dan saya pun lalu berpikir betapa sebenarnya saya masih beruntung bisa lepas dari hubungan yang tidak sehat dan menjalani hari bersama orang yang sebenarnya tidak tulus mencintai saya.

Jodoh adalah hak prerogatif Tuhan yang tidak bisa kita intip sedikitpun siapa gerangan orangnya. Tetapi yang pasti, pertanyaan-pertanyaan hidup yang muncul di kala kita dilanda kesedihan pasti akan terjawab setelah kita melewati perjalan waktu. Yakinlah, semua pasti ada jawabannya.
*****

Perjalanan dari Jakarta ke Manado dapat ditempuh lewat udara. Ada beberapa maskapai penerbangan indonesia yang memiliki rute langsung ke Manado seperti Lion Air, Garuda Indonesia, Batavia Air, dan Sriwijaya Air. Penerbangan internasional yang menuju Manado dikelola oleh Air Asia dengan rute Kuala Lumpur - Manado.

Bastianos Bunaken Diving Resort
Liang Beach - Bunaken Island
Jln. Cokroaminoto 19, Manado 95122
North Sulawesi, Indonesia
Tel. : +62.431.864025
Cell. : +62811435176 (Donny) - Reservation, +62.431.3325678 (Alex) - Reservation
Fax : +62.431.858454

Tuesday, June 26, 2007

Selamatkan penyu kita!


Saya masih teringat peristiwa 2 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Juni 2005 saat berita mengejutkan datang dari Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur. Bayangkan, lebih dari seratus ekor penyu mati akibat tersangkut jaring yang sengaja dipasang oleh nelayan! Duh Gusti...saya sangat sedih membaca berita itu. Kok ada ya, manusia yang masih tega memperlakukan hewan langka yang cantik tersebut dengan semena-mena hanya demi keuntungan pribadinya tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem kelautan di bumi tempatnya berpijak! Arghh! Saya tiba-tiba jadi geram. Tidak tahukah mereka bahwa jumlah penyu langka di Indonesia semakin lama semakin menyusut?

Sewaktu saya jalan-jalan ke Ujung Genteng beberapa tahun yang lalu, seorang teman saya bahkan sempat marah besar tatkala melihat seekor penyu hijau yang baru saja selesai bertelur ditunggangi oleh seorang anak kecil dan orangtuanya hanya tertawa-tawa riang melihat peristiwa itu! Dan saya pun semakin geram ketika menemukan fakta bahwa telur penyu tersebut diperdagangkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di penangkaran itu sendiri! OMG!!!


Dari informasi yang saya kumpulkan, ada enam species penyu langka dunia yang berkumpul di Indonesia dari total tujuh species. Mereka adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu tempayan atau Loggerhead (Caretta caretta), Penyu Sisik atau Hawksbill (Eretmochelys imbricta), Penyu Lekang atau Olive Ridley (Lepidochelys olivacae), Penyu Belimbing atau Leatherback (Dermochelys coriacea), dan Penyu Pipih atau Flatback (Natator depressus). Sayangnya, seiring dengan maraknya penangkapan ilegal, populasi penyu langka di Indonesia setiap tahun semakin menyusut. Jika tempurungnya tidak berakhir menjadi perhiasan yang kita pakai, maka mungkin dagingnya atau telurnya berakhir di meja makan restoran mewah. Oh no...


Seandainya, manusia berubah menjadi penyu dan kita terjaring di jaring ikan nelayan (dimana penyu ganti posisi jadi manusia) atau siap dibantai untuk disajikan di meja makan... Bagaimanakah rasanya? (OM/2007)
*****
Menuju Ujung Genteng:Terminal kampung rambutan Jakarta - Sukabumi - Jampang Surade - Ujung Genteng
Convention on International Trade of Endangered Species (CITES), Appendix I dan UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Pasal 21. Pelanggaran peraturan ini akan dikenakan sanksi berupa pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta

Wednesday, June 6, 2007

Nasi

Perkara makanan adalah perkara penting bagi Geng Budhe yang notabene adalah lulusan perguruan tinggi Meja Makan. Begitu juga bagi saya sebagai Cum Laude--lulusan terbaik di perguruan. Intinya adalah, saya tidak akan pernah rewel selama ada...Nasi!

Sebagai orang Indonesia tulen, nasi sudah menjadi kebiasaan di keluarga saya. Sarapan pagi pasti ada nasi, makan siang, dan juga makan malam. Tidak enaknya, gara-gara nasi ini saya jadi dijuluki si 1.5--artinya, satu kali makan, 5 kali nambah! Baiklah, itu mungkin terdengar terlalu berlebihan. Tetapi apa daya... Saat perut kelaparan berat dan tiba-tiba ada warung makan Padang yang masakannya enak sekali, saya jadi kalap! Tidak terasa jadi tambah nasi putih 5 kali!

Sewaktu pergi ke Pangandaran bersama Geng Budhe dan sarapan pagi di Restauran, teman-teman memilih memesan soto ayam, roti bakar, dan saya memilih...Nasi Timbal! Saat makan siang, kami duduk kembali di Restaurant yang sama dan saya memesan...Nasi Timbal lagi! Dengan sangat jujur saya akui bahwa Nasi Timbal-nya enak sekali. Sambalnya itu loh yang tidak tahan...pedas tapi membuat kita ingin tambah. Akhirnya tanpa malu hati saya pun berteriak, "Bu, tambah Nasi Timbal satu lagi!"Suasana hening. Tapi lantas tawa meledak karena teman-teman sudah hapal kebiasaan 'tambah-menambah' saya. Fajar yang duduk di sebelah saya berkomentar, "Ya ampuuun, tambah lagi???" Saya cuma menyengir."Bu, saya juga tambah lagi!" Tiba-tiba fajar bersuara.Tuuuuh kaaaan.... Bukan cuma saya yang suka makan! Fajar jadi lebih pede untuk tambah karena ada teman.

Lain cara Fajar, lain pula cara Ukay. Saya tahu benar bahwa lambung pria jauh lebih besar dari pada wanita. Si Ukay pada awalnya juga kaget dengan porsi makan saya secara badan saya tidak pernah gendut. Tetapi lama-lama kelamaan ia jadi terbiasa dan malah memanfaatkan saya jika mau nambah makan. Kalau piringnya sudah hampir kosong, biasanya Ukay melirik ke arah saya yang masih lahap dan bertanya, "Lo mau nambah lagi gak?" Eh??? Dia yang mau nambah kok malah nanya ke saya sih????

Nasi memang sangat penting dalam hidup saya! Bayangkan, sewaktu ke Singapura dengan uang terbatas, saya terpaksa makan bubur demi memenuhi permintaan perut akan nasi. Sempat tergoda untuk makan di rumah makan Padang di Kampung Bugis, tetapi teman saya mengatakan bahwa saya pasti kecewa karena rasanya tidak seperti Rumah Makan Padang di Indonesia. Saya pun jadi urung niat. Belajar dari pengalaman di Singapura, saya pun bertekad bahwa jika suatu hari nanti harus merantau ke negeri orang, maka yang harus saya bawa adalah Rice Cooker dan bumbu rendang. (om/2007)