Perkara makanan adalah perkara penting bagi Geng Budhe yang notabene adalah lulusan perguruan tinggi Meja Makan. Begitu juga bagi saya sebagai Cum Laude--lulusan terbaik di perguruan. Intinya adalah, saya tidak akan pernah rewel selama ada...Nasi!Sebagai orang Indonesia tulen, nasi sudah menjadi kebiasaan di keluarga saya. Sarapan pagi pasti ada nasi, makan siang, dan juga makan malam. Tidak enaknya, gara-gara nasi ini saya jadi dijuluki si 1.5--artinya, satu kali makan, 5 kali nambah! Baiklah, itu mungkin terdengar terlalu berlebihan. Tetapi apa daya... Saat perut kelaparan berat dan tiba-tiba ada warung makan Padang yang masakannya enak sekali, saya jadi kalap! Tidak terasa jadi tambah nasi putih 5 kali!
Sewaktu pergi ke Pangandaran bersama Geng Budhe dan sarapan pagi di Restauran, teman-teman memilih memesan soto ayam, roti bakar, dan saya memilih...Nasi Timbal! Saat makan siang, kami duduk kembali di Restaurant yang sama dan saya memesan...Nasi Timbal lagi! Dengan sangat jujur saya akui bahwa Nasi Timbal-nya enak sekali. Sambalnya itu loh yang tidak tahan...pedas tapi membuat kita ingin tambah. Akhirnya tanpa malu hati saya pun berteriak, "Bu, tambah Nasi Timbal satu lagi!"Suasana hening. Tapi lantas tawa meledak karena teman-teman sudah hapal kebiasaan 'tambah-menambah' saya. Fajar yang duduk di sebelah saya berkomentar, "Ya ampuuun, tambah lagi???" Saya cuma menyengir."Bu, saya juga tambah lagi!" Tiba-tiba fajar bersuara.Tuuuuh kaaaan.... Bukan cuma saya yang suka makan! Fajar jadi lebih pede untuk tambah karena ada teman.
Lain cara Fajar, lain pula cara Ukay. Saya tahu benar bahwa lambung pria jauh lebih besar dari pada wanita. Si Ukay pada awalnya juga kaget dengan porsi makan saya secara badan saya tidak pernah gendut. Tetapi lama-lama kelamaan ia jadi terbiasa dan malah memanfaatkan saya jika mau nambah makan. Kalau piringnya sudah hampir kosong, biasanya Ukay melirik ke arah saya yang masih lahap dan bertanya, "Lo mau nambah lagi gak?" Eh??? Dia yang mau nambah kok malah nanya ke saya sih????
Nasi memang sangat penting dalam hidup saya! Bayangkan, sewaktu ke Singapura dengan uang terbatas, saya terpaksa makan bubur demi memenuhi permintaan perut akan nasi. Sempat tergoda untuk makan di rumah makan Padang di Kampung Bugis, tetapi teman saya mengatakan bahwa saya pasti kecewa karena rasanya tidak seperti Rumah Makan Padang di Indonesia. Saya pun jadi urung niat. Belajar dari pengalaman di Singapura, saya pun bertekad bahwa jika suatu hari nanti harus merantau ke negeri orang, maka yang harus saya bawa adalah Rice Cooker dan bumbu rendang. (om/2007)

0 comments:
Post a Comment